Esai
Sebuah jembatan, dengan sunyi memanggul beban sebuah perang

Di siang hari Jembatan Sungai Kwai tampak cukup biasa — jembatan besi hitam melintasi sungai hijau, turis berfoto di atasnya, kereta sesekali menyeberang perlahan, bantalan kayu memberi gema hampa di bawah kaki. Menyusuri jembatan, angin sungai membawa uap air dan bau karat samar, sampai papan keterangan di kepala jembatan melambatkan langkah: jembatan ini ditebus, selama Perang Dunia Kedua, dengan nyawa yang tak terhitung; rel yang menjadi bagiannya punya nama lain — Rel Kematian.
Dalam perang, untuk menembuskan rel strategis melintasi Thailand menuju Burma, tentara Jepang mengerahkan lebih dari enam puluh ribu tawanan perang Sekutu — tentara Inggris, Australia, Belanda, Amerika, Selandia Baru — ditambah jumlah buruh Asia yang jauh lebih besar: orang Tionghoa, Melayu, Jawa, Burma. Rel itu diburu selesai dalam kurang dari setahun, dengan harga puluhan ribu mati karena penyakit, kelaparan, dan kerja paksa. Jembatan di hadapanmu hanya salah satu ruas yang masih terlihat dari kesedihan panjang itu.
Pekan Jembatan Sungai Kwai digelar tiap tahun di Kanchanaburi; selepas gelap ada pertunjukan cahaya dan suara, memakai efek cahaya dan suara untuk memeragakan ulang sejarah itu di atas jembatan. Adegannya tidak riang; yang ia minta untuk kauingat adalah apa yang pernah mengalir di bawah sungai yang sunyi ini. Seorang lelaki tua berambut putih duduk di kursi tepi sungai, nyaris tak berkata apa pun dari awal sampai akhir; tak ada yang tahu siapa ia, namun terasa bahwa, baginya, sejarah ini bukan sejarah.
Tak jauh dari jembatan terbentang sebuah makam perang, deretan nisan putih dalam barisan rapi, banyak yang meninggal baru lewat dua puluh tahun. Wisata siang, cahaya dan suara malam, semua pada akhirnya membawa orang kembali ke kesunyian ini: bahwa jembatan ini, difoto sampai berkilau, menindih begitu banyak nama muda. Angin sungai berembus, masih uap air dan karat, namun ia tak lagi berbau seperti tadi.
Kata-kata di nisan kebanyakan sangat pendek — sebuah nama, dua tahun, dan ruas di antaranya adalah seluruh hidup. Mataharinya cerah, rumputnya dipangkas rapi; di depan satu nisan seseorang meletakkan seikat kecil bunga, sudah agak layu, tak tahu berapa hari lalu. Cukup sunyi untuk mendengar angin menyeberang rumput — kesunyian ini membuat orang lebih kehilangan kata daripada tuduhan mana pun.
Pertunjukan berakhir, lampu padam, kerumunan bubar, dan Kwai kembali ke kesunyian malamnya, air mengalir di bawah kaki, sungai yang sama seperti delapan puluh tahun lalu. Aku tak memotret, hanya berdiri — kurasa kamu pun akan merasa, pada saat itu, bahwa sebagian tempat mengharukan bukan karena pemandangannya, melainkan karena ada orang yang rela terus menceritakan, tahun demi tahun, dengan sunyi dan sungguh-sungguh, hal yang tak semestinya dilupakan.
Esai