Lewati ke konten utama

Esai

Kamu mendarat di seribu enam ratus meter, prajurit menyerbu di depanmu

Festival Baliem Valley 2026: Pengalaman yang Unik di Papua

Saat pesawat mendarat di Wamena, ketinggiannya sudah lebih dari seribu enam ratus meter, udaranya jauh lebih dingin dari dataran rendah, paru-paru butuh waktu untuk menyesuaikan. Keluar dari bandara mungil itu, gunung di segala sisi, orang duduk di lapak-lapak sepanjang jalan — lelaki mengenakan koteka tradisional, perempuan berrok anyaman rumput, beberapa anak melambai ke kelompok pendatang ini, tertawa lapang. Sepesawat orang yang tak pernah bertemu, masing-masing terbang sendiri untuk menyaksikan festival ini, dibangunkan bersama oleh angin dingin dataran tinggi.

Inilah Lembah Baliem, jantung dataran tinggi Papua, rumah suku Dani, Lani, dan Yali. Lembah ini tersembunyi begitu dalam sampai tak "ditemukan" oleh dunia luar hingga tahun 1930-an — salah satu tempat terakhir di bumi yang bertemu zaman modern. Tiap Agustus suku-suku berkumpul di sini menggelar festival, membentangkan dalam beberapa hari busana, nyanyian, tarian, dan ritus yang diwariskan turun-temurun.

Perang tiruan adalah intinya. Dua kelompok prajurit berhadapan di dua ujung alun-alun, meneriakkan pekik perang, saling menyerbu, hiasan kepala bulu dan wajah bercat begitu cerah tak nyata di bawah matahari, gendang mendesak di belakang. Itu sebuah latihan simbolis — untuk menjaga keselarasan dan ketangkasan suku tetap tajam, tak pernah benar-benar baku hantam. Namun saat puluhan lelaki menyerbu mengaum ke arahmu, berdiri di sana, tubuh menegang sebelum pikiran sempat.

Di sisi lain, para perempuan menggali lubang di tanah, melapisinya dengan batu panas dan daun, dan menguburkan daging babi serta ubi di dalamnya — inilah tungku tanah tradisional dataran tinggi, cara mereka memasak sehidangan. Babi di sini bukan hanya makanan melainkan kekayaan, bukti seberapa banyak ketulusan yang rela diajukan sebuah keluarga. Seorang tua berjongkok di tepi lubang menjaga api, asap membuatnya menyipit, namun raut wajahnya puas, seperti seseorang yang memimpin hal yang lebih penting dari sekadar makan.

Pada saat tungku tanah dibuka, uap mengaum naik, aroma babi panggang, ubi, dan batu panas menyembur keluar bersama, bercampur udara dataran tinggi yang tipis dan sejuk-jernih. Sepesawat orang asing itu kini telah berkumpul, berbagi sepotong ubi yang baru matang, saling meniupinya, dan larut dalam tawa — pagi tadi masing-masing duduk terpisah, dan kini mereka seakan telah saling kenal lama.

Saat pesawat meninggalkan Wamena, semua bersandar ke jendela menatap ke bawah, lembah itu cepat menyusut lalu tertutup awan. Memikirkan anak yang melambai itu, babi-babi yang dihitung sebagai kekayaan, hiasan kepala bulu yang begitu cerah tak nyata di bawah matahari — sejatinya belum satu pun terpikir jernih. Tapi kurasa jika kamu pun pernah datang, kamu kemungkinan akan paham seperti kami: sebagian tempat bukan didatangi untuk dipahami, melainkan untuk mengingatkanmu bahwa dunia lebih luas, lebih tua, dan lebih kaya dari yang kausangka.

Esai